Senin, 18 Februari 2013

Manusia dan agama

A. Pengertian, fungsi dan tujuan Agama.
Agama adalah fitrah “ketentuan mutlak” bagi Manusia tanpa manusia agama bukan berarti apa-apa, karena Agama memang ditujukan bagi manusia.[1]
Pengertian Agama berasal dari bahasa sansekerta. Menurut pengertian umat hindu penganut madzhab siwa, kata agama yang dipergunakan dalam bahasa Indonesia sebagai istilah kerohanian, berasal dari kata Gam yang berarti pergi, Gam diberi awalan “A” yang berarti Agam berarti kebalikan dari pergi yang artinya datang, dan diberi akhiran “A” menjadi agama dengan arti kedatangan.[2]

[1] Murtadha mutahhari, Perspektif Al-Qur`an tentang Manusia dan Agama, peny., Haidar bagir, (Bandung: Mizan, 1997), h. 41-42.
[2] T.H. Thalhas, Ilmu Perbandingan Agama, (Jakarta: Galura pass, 2006), h. 19-20.
Sementara itu ada juga penulis yang mengartikan bahwa agama menurut bahasa sansekerta terdiri dari dua kata “A” dan “Gama”, A yang berarti tidak dan Gama yang berarti kacau balau, jadi agama mempunyai arti tidak kacau balau (teratur).[1]
Bila agama itu disalin ke dalam bahasa arab yang berarti al-Din atau al-millah, ia dapat bermakna adat kebiasaan, tingkah laku, patuh, hokum, aturan, dan pikiran.[2]
Orang barat menggunakan kata agama dengan sebutan Religion yang biasanya digunakan untuk kepentingan tertentu dari umat manusia yang merupakan unsure pokok bagi kehidupan manusia di seluruh dunia. Pengertiannya adalah hubungan yang tetap antara manusia dengan yang bukan manusia.[3]
Sementara itu definisi mutlak dari agama dalam wacananya agak mengalami kesulitan tersendiri, bahkan hampir mustahil untuk dapat mendefinisikan agama yang bias diterima  atau disepakati semua kalangan. Untuk itu setidaknya ada tiga cara pendekatan yaitu segi fungsi, institusi, dan subtansi.[4]
Para ahli sejarah, cenderung mendefinisikan agama sebagai suatu institusi historis. Para ahli di bidang sosiologi dan antropologi cenderung mendefinisikan agama dari sudut fungsi sosialnya. Pakar teologi, fenomenologi, dan sejarah agama melihat agama dari aspek substansinya yang sangat asasi yaitu sesuatu yang sakral. Pada hakikatnya ketiga pendekatan itu tidak saling bertentangan, melainkan saling melenyempurnakan dan melengkapi, khususnya jika menginginkan agar pluralism agama didefinisikan  sesuai kenyatan objektif di lapangan.[5]
Sementara itu fungsi dan tujuan dari agama adalah sebagai tatanan Tuhan yang dapat membimbing Manusia yang berakal untuk berusaha mencari kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat “kehidupan selanjutnya”.[6]
Agama mengajarkan para penganutnya untuk mengatur hidupnya agar mendapatkan kebahagiaan untuk dirinya maupun masyarakan sekitarnya, selain itu sebagai pembuka jalan kepada sang Pencipta manusia. Tuhan yang Maha Esa ketika telah mati. Ajaran agama yang universal mengandung kebenaran yang tidak dapat diubah meskipun masyarakat telah menerima itu berubah  dalam struktur dan cara berfikirnya.[7]
A. Dimensi (unsur-unsur) Agama.
Dimensi Agama yang telah dikonsepsikan manusia adalah: adanya kepercayaan kepada Sang Pencipta, Adanya wahyu asli, dogma teologi, yakin tentang adanya supranatural, adanya proses evolusi.
B. Kebutuhan manusia terhadap agama.
Kita mungkin telah dapat merasakan bagaimana pentingnya peranan yang telah dimainkan oleh agama dalam kehidupan manusia. Hal itu malah mungkin menimbulkan kekecewaan pada manusia, karena betapa sering perwujudan agama gagal. Begitu juga kita telah merasakan betapa pentingnya mutu kehidupan beragama itu bagi seluruh tradisi manusia.[8]
Barangkali kita juga telah mengambil sikap baru terhadap agama lain yang bukan agama kita peluk sendiri. Bukan dalam arti bahwa kita menyetujui semua agama tersebut. Dalam menelaah kehidupan semua agama manusia tersebut, tidak ada hal yang mengharuskan garis batas keyakinan agama lain terlewati. Namun barangkali kita telah dapat memandang agama-agama tersebut sebagai keyakinan yang dianut oleh manusia yang hidup, yaitu orang-orang yang juga mempertanyakan berbagai masalah dasar yang juga kita pertanyakan, mereka juga mencari hidup yang lebih luhur terhadap agamanya.[9]
Agama mengambil bagian pada saat-saat yang paling penting dan pada pengalaman hidup. Agama merayakan kelahiran, menandai pergantian jenjang masa dewasa, mengesahkan perkawinan, serta kehidupan keluarga, dan melapangkan jalan dari kehidupan kini menuju kehidupan yang akan datang. Bagi juataan manusia, agama berada dalam kehidupan mereka pada saat-saat yang paling khusus maupun pada saat-saat yang paling mengerikan . agama juga memberikan jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan kita. Adakah kekuatan tertinggi lain yang mampu memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan kita? Bagaimanakah kehidupan dimulai? Apa arti semuanya ini? Mengapa orang menderita? Apa yang terjadi terhadap diri kita apabila kita telah mati?[10]
Mengingat hal demikian wajarlah jika agama menjadi sangat dibutuhkan oleh manusia, karenanya ia mampu memberikan jawaban sekaligus inspirasi bagi terwujudnya kehidupan yang diinginkan manusia.
C. Beberapa teori dan pendekatan dalam ilmu Agama.
Ada beragam teori dan pendekatan yang dilakukan para sarjana, diantaranya adalah: Para sarjana barat dalam teorinya terhadap cara pendekatan dalam ilmu agama memakai metode[11]:
1. Metode pendekatan structural fungsionalistis, yang berarti pendekatan yang bertitik tolak pada pertanyaan-pertanyaan (apa fungsi dan peranan agama, bagaimana kedudukan dalam struktur masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari).
2. Metode pendekatan fenomenologis yaitu metode yang berusaha melihat dari dalam atau substansi dari isi kepercayaan agama itu sendiri.
Disamping itu berdasarkan penelitian secara empiris dan memperhatikan hasil-hasil pembahasan yang telah dilakukan oleh para sarjana[12], yaitu:
1. Metode historis dengan tokohnya Maurie Vernas (1854-1929).
2. Metode antropologi dengan tokohnya seperti tylor (1823-1917) dan J.G. frazer (1854-1916) yang menitik beratkan pada penelitian dan penyelidikan terhadap agama primitive.
3. Metode philology dengan tokohnya Max Muller (1823-1900) yang menggunakan perbandingan philology, dengan cara mempelajari myitology (mitos kepercayaan).
4. Metode originally (asal-usul agama) dengan tokohnya Herbert spencer (1820-1898) dengan bukunya yang terkenal antara lain principles of sociology, sebagai pertumbuhan dan perkembangan agama yang dilihat dan ditinjau dari asal-usul agama itu berada.
5. Metode sociology dengan tokohnya yang utama adalah Emile Durkheim (1858-1917). Pada umumnya metode ini mendapat sambutan yang baik dan digunakan oleh para sarjana di masa kini, yang digunakan oleh syeh Muhammad Abduh (1849-1905) sebagai tokoh sarjana muslim.
6. Metode volkersychology dengan tokohnya yang utama adalah M Lazarus (1824-1903) sarjana dari jerman. Metode ini menghampiri agama dari aspek-aspek psikologi rakyat dan penganut-penganutnya.
Maka dengan demikian akan tercapainya pemahaman terhadap ilmu-ilmu agama, apabila dalam teori dan pendekatannya mengunakan berbagai ilmu pengetahuan yang saling berkaitan seperti, sejarah, arkeologi, geografi antropologi, dan psikologi. Dengan begitu integrasi antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan lainnya setidaknya akan memberikan pengertian yang utuh terhadap agama.
Daftar Pustaka
Smith, Huston. Agama-Agama Manusia, terj., Saafroedin bahar  (Jakarta: Yayasan Obor indonesia, 2001).
Keene,Michael. Agama-agama Dunia, terj., F.A. Soepapto (Yogyakarta: Kanisius, 2006).
Thalhas, T.H. Ilmu Perbandingan Agama (Jakarta: Galura pass, 2006).
Mutahhari, Murtadha Perspektif Al-Qur`an tentang Manusia dan Agama. peny., Haidar bagir (Bandung: Mizan, 1997).
Malik Thoha, Anis. Tren Pluralisme Agama: Tinjauan kritis (Depok: Perspektif, 2005).

[1] Ibid,. 20.
[2] Ibid,.
[3] Ibid,.
[4] Dr. Anis Malik Thoha, Tren Pluralisme Agama: Tinjauan kritis (Depok: Perspektif, 2005), h. 13.
[5] Dr. Anis Malik Thoha, h. 13-14.
[6] T.H. Thalhas, h. 21.
[7] Ibid,. 19.
[8] Huston smith, Agama-Agama Manusia, terj., Saafroedin bahar  (Jakarta: Yayasan Obor indonesia, 2001), h. 412.
[9] Huston smith, h. 412.
[10] Michael Keene, Agama-agama Dunia, terj., F.A. Soepapto (Yogyakarta: Kanisius, 2006),h. 6-7.
[11] T.H. Thalhas, Ilmu Perbandingan Agama, (Jakarta: Galura pass, 2006), h. 34.
[12] T.H. Thalhas, 34-35.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar